Berhenti (Sementara) dari Aktivitas Sosial Media Itu Banyak Manfaatnya. Yakin Nggak Pengen Dapat Salah Satunya?

hipwee-pexels-photo-199497-750x422

Selama beberapa tahun terakhir ini, saya adalah salah satu pengguna media sosial yang aktif. Sebagai seorang introvert, saya merasa bahwa media sosial adalah sebuah hal yang sangat menyenangkan dan sangat membantu saya dalam pergaulan.

Bila kamu seorang introvert, kamu mungkin tahu bahwa terkadang kita lebih memilih untuk sendiri.

Kita lebih suka menghabiskan waktu untuk melaksanakan hal yang kita sukai dengan melakukan berbagai aktivitas secara sendiri. Keberadaan sosial media menjadi sebuah hal yang luar biasa dan menyenangkan karena teknologi ini memungkinkan kita untuk menjadi sosial walaupun kita tidak berada bersama orang lain. Kita bisa tetap berkomunikasi dan terhubung dengan orang lain, walaupun kita sendiri tidak harus selalu bersama orang lain.

Mungkin kamu juga merasakan hal yang sama dengan saya. Sosial media membuat saya lebih terbuka dengan dunia ini. Saya melihat dan berteman dengan banyak orang yang tidak berasal dari Indonesia dan dari pertemanan itu, saya mulai mempelajari banyak kebudayaan mereka. Saya belajar bahwa pandangan yang selama ini saya anut sebagai kepercayaan saya ternyata bukan satu-satunya pandangan yang benar akan dunia ini. Ternyata saya tidak sesignifikan yang saya pikir.

Saya belajar untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan senantiasa terbuka dengan dunia sekitar saya. Saya mau memperjelas, hanya karena saya mengatakan saya terbuka terhadap hal-hal baru, bukan berarti saya setuju. Hanya karena saya mengatakan bahwa saya terbuka dengan semua orang dan kebudayaan, bukan berarti saya senantiasa mengikuti hal-hal tersebut tanpa mengkritisi apakah hal tersebut baik bagi saya atau tidak. Mengerti tidak selalu berarti mengiyakan.

Mengerti hanya menunjukkan bahwa saya bersedia untuk menerima bahwa ada pandangan lain yang dianut orang lain selain pandangan saya and it’s fine.

Tetapi, ini bukanlah topik yang saya ingin bicarakan. Ya, topik yang saya tulis kali ini berkaitan dengan sisi negatif media sosial. Para peneliti banyak menemukan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menyebabkan atau meningkatkan gejala depresi dan kecemasan berlebihan.

Penggunaan media sosial secara berlebihan tidak serta merta memunculkan gangguan kejiwaan sebagai depresi yang harus didiagnosa terlebih dahulu oleh psikolog atau ahli kesehatan jiwa lainnya, tetapi memang dapat menimbulkan gejala depresi.

Saya termasuk salah seorang pribadi yang terkena efek negatif menggunakan sosmed secara berlebihan, terlebih saya sendiri sedang berada dalam kondisi yang kurang menyenangkan dan susasana hati saya pun sudah kurang baik sejak lama. Saya merasa semakin depresi dan merasa kurang berharga karena saya jadi membandingkan diri saya dengan orang lain.

Ya, saya senantiasa membandingkan kondisi saya dengan orang lain. Saya ingat bagaimana perasaan saya saat saya melihat orang lain bisa jalan-jalan ke tempat wisata ternama, saat mereka tertawa bersama teman-temannya atau pacarnya, saat mereka bisa hangout dengan keluarga mereka tanpa kendala, dan saat ada yang bisa bertemu dengan teman-teman satu gengnya setelah lama terpisah oleh jarak dan waktu.

Saya ingat persis betapa sedihnya saya dan betapa saya ingin menangis karena merasa bahwa semua orang memiliki hidup yang bahagia, sedangkan saya harus “menderita” seorang diri di negara orang lain. Saya merasa bahwa saya seharusnya sama seperti mereka atau bahkan lebih dari mereka.

Bukankah saya memiliki kesempatan dan bisa tinggal di tempat yang lebih maju? Bukankah saya seharusnya sebagai seorang penulis topik self-help harusnya sudah tahu mengenai bagaimana cara hidup bahagia? Bukankah saya seharusnya sudah percaya diri dan sudah dalam perjalanan hidup sukses? Kok saya sedih ketika melihat orang lain senang?

Kenapa saya harus sedih? Karena memang itulah efek media sosial, terlebih jika kamu sedang berada dalam suasana hati yang jelek dalam waktu yang lama. Sejujurnya, saya sendiri pun tahu dalam hati saya bahwa apa yang di post di media sosial bukanlah selalu refleksi kenyataan. Social media adalah media promosi. Jarang ada orang yang akan mem post sebuah hal yang buruk tentang dirinya.

Sebagai contoh: kamu sendiri jarang menemukan orang yang mem post saat dirinya berantem dengan pacarnya kan? Tidak akan ada orang yang mem post dirinya bahwa ia membenci dirinya sendiri (kecuali ia sudah mengalami gejala depresi dan ingin melampiaskan atau mungkin mencari pertolongan lewat media sosial). Tidak. Kalaupun ada, saya yakin jarang sekali ada yang berani mem post seperti itu.

Tidak semua hal yang kita lihat di media sosial dapat merepresentasikan kenyataan yang sebenarnya. Seorang yang sedih bisa saja mem post foto bahagia untuk mengkamuflasekan kesedihannya. Seseorang yang mungkin sebenarnya merasa insecure dengan dirinya dan dia menginginkan validasi dari pengguna media sosial bisa saja memposting foto dirinya dengan harapan saat orang memencet tombol “Like” atau “Love”, ia akan merasa lebih baik dengan dirinya sendiri. Banyak sekali kemungkinan atau pikiran yang dimiliki seseorang di balik post mereka.

Hal ini baru saya sadari kembali setelah saya memutuskan untuk berhenti secara sementara dalam menggunakan media sosial. Saya merasa bahwa kondisi kesehatan mental saya akan menjadi lebih buruk bila saya terus menggunakan media sosial secara berlebihan. Setelah saya mencoba untuk mengurangi penggunaan hal ini, saya merasa berbeda dari sebelumnya. Saya menyadari bahwa selama ini saya kurang menggunakan waktu secara efektif dalam keseharian saya. Saya banyak sekali menghabiskan waktu selama berjam-jam yang sebenarnya saya bisa gunakan untuk hal lain selain menggunakan media sosial.

Ya, sebenarnya kita selalu punya waktu untuk jadi lebih produktif. Saya bisa menghabiskan waktu tersebut atau menggunakan waktu tersebut lebih efektif untuk bertemu dengan teman, berolahraga, menulis daily journal, membaca novel yang saya sukai, belajar, meditasi, mendengarkan musik yang saya sukai, dan jalan santai di sore hari. Saya selama ini menggunakan handphone (HP) saya sebagai alasan untuk tidak mau bertemu dengan orang lain atau untuk menghindari pembicaraan dengan orang lain. Ketika saya mengurangi penggunaan HP saya, saya tahu bahwa saya tidak bisa menggunakan gadget ini sebagai alasan untuk tidak berbicara atau bersosialisasi dengan orang lain.

Saya belajar untuk benar-benar menghadapi isu yang selama ini saya hindari: saya merasa tidak bahagia dalam hidup saya. Memang rasanya tidak menyenangkan saat kita harus menghadapi hal-hal yang selama ini kita hindari. Tidak enak sama sekali. Tetapi, semakin lama kita tidak mau mengakui bahwa masalah kita ada, masalah tersebut tidak akan pernah selesai. Kita malah menciptakan banyak masalah baru. Saya akhirnya memaksakan diri untuk berani mengakui mengapa saya tidak bahagia. Saya akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa saya harus keluar dari zona nyaman saya dan harus berjuang menghadapi semua kecemasan saya. Saya merasa lebih baik sekarang karena saya sudah bisa menerima dan bisa mengubah beberapa aspek dalam hidup saya yang membuat saya tidak bahagia.

Hal terakhir dan terpenting yang bisa saya katakan adalah, saya belajar untuk menjadi cukup. Saya belajar untuk mensyukuri hidup saya. Saya jauh dari sempurna dari banyak hal. Tetapi saya sendiri sudah diberkati dan sudah memiliki amunisi untuk bisa hidup sukses. Saya menyadari bahwa kebahagiaan sejati bersumber dari Tuhan dan bukan dari manusia. Saya bukan pribadi paling religius dan saya tidak mau menjadi religius bila hal tersebut membuat saya merasa lebih baik dari orang lain padahal saya jauh dari hal tersebut. Saya masih banyak melakukan kesalahan dan saya masih harus banyak belajar. Saya bukan orang paling pintar atau cerdas, tetapi saya belajar bahwa lebih baik belajar menjadi orang bijaksana. Karena itu, langkah bijaksana yang ingin saya bagikan dalam tulisan ini adalah: kamu sudah cukup. You are good enough.

Bila kita selalu membandingkan diri dengan orang lain, kita tidak akan atau paling tidak, akan sangat sulit untuk menjadi pribadi yang bahagia. Percayalah, selalu ada orang yang berada di atas dan di bawah kita. Setiap orang memiliki kebahagiaan dan penderitaan masing-masing. Setiap orang memiliki timeline kehidupan masing-masing. Sebenarnya saat kita merasa iri atau inferior akan kehidupan orang lain, perasaan-perasaan ini masuk makal dan manusiawi. Tetapi, kita tidak perlu jatuh ke dalam perasaan iri.

Mari kita semua belajar untuk merasa cukup dalam segala hal. Manusia tidak akan pernah puas dan seringkali kita jatuh ke dalam dosa saat kita menjadi pribadi yang tidak bisa bersyukur. Kita menghalalkan segala cara demi meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Suatu saat, kita sudah tidak akan berada di dunia ini. Ya, suatu saat kita hanya akan menjadi sebuah nama. Kita tidak akan membawa kekayaan dan kesuksesan kita saat kita meninggal dan kematian masih menjadi misteri Ilahi.

Jalanilah hidup kita dengan rasa syukur. Hidup kita mungkin tidak selalu sempurna dan kita mungkin masih menjalani banyak sekali penderitaan. Tetapi, saya selalu ingat sebuah kutipan bahwa proses memang menyakitkan tetapi hasilnya akan membuat kita tersenyum. Teruslah berjuang untuk mencapai hidup yang kita inginkan tetapi jangan sampai kita lupa bahwa hidup juga perlu dinikmati dari detik ke detik, menit ke menit, dan hari ke hari.

Live in the moment and there you will find where the beauty lies. Because beauty is accessible and it is available anywhere, should you open yourself to gratitude.

Advertisements