Kepada Sahabat yang Lebih Dulu Wisuda, Selamat Ya. Setelah Ini, Cukup Do’akan Saya :)

hipwee-pexels-photo-351330-750x422

Masih begitu lekat di ingatanku, bagaimana dulu kita yang lugu saling berkenalan di kegiatan orientasi mahasiswa baru. Berlanjut dengan menghabiskan waktu istirahat kuliah di perpustakaan atau sekedar makan siang di kantin belakang kampus. Aku begitu merasa nyaman berbagi cerita dan segalanya denganmu, pun kamu sebaliknya.

Bersahabat dengan mu, seperti menemukan bagian lain dari diriku.

Bertahun-tahun ada dikelas yang sama, menempuh mata kuliah yang sama, aku mengenalmu sebagai sosok cerdas yang juga rajin. Setiap sesi diskusi atau debat kelompok, kamu begitu kritis dengan argumen-argumen lugas mu. Dibalik itu, kamu juga memiliki sisi konyol yang kadang seperti berbanding terbalik dengan kepintaran mu dalam melahap materi-materi perkuliahan.

Saat senang, kamu bisa tertawa lepas tanpa peduli tempat dan orang disekelilingmu. Lucunya, kamu pun gampang menangis hanya karena menonton film atau drama korea yang menurutku tidak sesedih versi mu. Perempuan pintar yang kocak, konyol dan hiper aktif, seperti paket lengkap saja.

Dipertengahan masa kuliah, kamu pernah mengajakku untuk berjanji akan terus bersama sampai waktu wisuda. Friendship goal dalam setiap cerita persahabatan masa kuliah. Aku pun memang menginginkan hal yang sama, tentu akan lengkap bahagiaku saat kita sama-sama terlihat cantik mengenakan toga yang kita impikan itu.

Saat aku tau kamu sudah mendaftarkan judul skripsi mu, sementara masih ada mata kuliah yang belum rampung ku tempuh, aku marah. Tapi bukan kah kamu berhak untuk mendapat hasil untuk ketekunan mu selama ini?.

Sampai suatu saat, seorang teman mengabariku kalau kamu sudah mendaftarkan judul skripsi dan sedang menunggu acc dosen pembimbing. Sungguh aku begitu terkejut. Kenapa pula aku harus tau semua dari orang lain dan bukan kamu yang menceritakan pada ku, bukankan kita sahabat? Apa begini cara mu untuk selangkah lebih maju dari sahabatmu ini. Semua pikiran buruk seperti mencerca ku saat itu, aku dikalahkan emosi yang merasa dikhianati sahabat sendiri.

Aku butuh waktu untuk meredakan ego ku. Berusaha berdamai dengan keadaan yang memang pantas terjadi. Kamu yang begitu tekun kuliah, dengan nilai IP tinggi di setiap semester. Sementara aku yang tidak sekeras itu berusaha, wajar saja jika hasil akhirnya pun tak sama. Lalu apa alasan pembenarku untuk marah atas kesuksesanmu itu? Aku sahabatmu, seharusnya aku turut berbangga dan bahagia karena kamu semakin dekat dengan cita-citamu. Aku lah orang pertama yang seharusnya menjabat tanganmu dan memberi ucapan selamat, bukan sebaliknya, menggerutu dibelakangmu.

Aku sudah ikhlas. Untuk janji yang dulu pernah kita buat. Aku tetap menepatinya, menemani mu hingga wisuda walaupun tidak memakai toga yang sama.

Terimakasih sudah menjadi bagian indah dari perjalanan masa mudaku. Dari mu, aku belajar bahwa usaha memang tidak pernah mengkhiati hasil. Semakin besar usaha kita, akan semakin besar pula hasil yang menanti. Maka sahabat hebatku, kesuksesanmu akan selalu jadi bagian dalam setiap doaku. Jangan lupa berkabarlah, meskipun kita tidak lagi berjuang di kota yang sama, persahabatan kita akan tetap ada selamanya.

Advertisements