7 Kesalahan Ngalis yang Sering Dilakukan Kamu. Tanpa Sadar Malah Bikin Wajahmu Kelihatan Aneh Lucu

hipwee-o-EYEBROWS-BLACK-WOMAN-900-750x422

Tampil cantik bagi setiap cewek bisa dibilang sebuah keharusan. Kamu pun nggak terlepas dari riasan supaya terlihat berseri dan nggak kucel. Salah satu bagian wajah yang nggak boleh terlewat yaitu alis. Ya, rambut-rambut tipis yang tersusun di atas mata ini memiliki peranan penting terhadap penampilanmu. Cantik atau tidaknya kamu bisa dinilai dari seperti apa bentuk alismu.

Sayangnya, riasan alismu kian gagal lantaran cara yang kamu terapkan salah. Kamu tidak memperhatikan lekukan yang tepat dan salah memilih warna. Cara yang sudah jadi kebiasaan karena kamu tidak mengetahuinya ini memang harus diubah. Untuk itu, intip 7 kesalahan ngalis supaya nggak merusak penampilanmu lagi.

1. Memilih warna pensil alis yang salah adalah malapetaka. Wajahmu bisa terlihat aneh gara-gara ini

Kesalahan yang kerap terjadi yakni pemilihan warna pensil alis tidak tepat. Seringnya yaitu warna yang dipilih terlalu gelap untuk alis. Padahal, kalau warna rambut alismu sudah gelap, sebaiknya hindari pemilihan warna pensil alis yang makin menggelapkan. Kamu bisa memilih dua warna lebih terang dari warna asli alismu. Dengan begitu, alismu terlihat alami dan nggak bakal aneh.

2. Caramu memulai lengkungan alismu yang salah, yakni dari pangkal alis tentu menghasilkan bentuk tidak tepat bagi wajah. Coba mulai dari bagian tengah alis deh

Biasanya keahlian seseorang dalam mendandani alis dinilai dari lengkungan yang dibuat. Pandai atau tidaknya kamu membuat lengkungan menggunakan pensil alis jadi tolok ukurnya. Namun, alismu jadi tidak bagus dilihat karena kamu membentuknya melengkung tajam – memulai dari pangkalnya. Padahal, alis yang dibentuk dari pengkal akan membuat wajahmu terlihat berlebihan. Maka dari itu, coba gambar alis dari depan atau dari tengah ke ujung, selanjutnya dari tengah ke pangkal. Wajahmu akan terlihat natural dan riasannya lembut.

3. Pada dasarnya, bentuk alis itu banyak yang tidak simetris. Jika kamu paksa untuk terlihat sama, jangan heran banyak yang perhatikan karena bentuk alismu aneh

Apakah kamu suka merasa bentuk alismu tidak sama? Misalnya yang sebelah kanan lebih tebal dan agak melengkung tinggi, lalu yang kiri agak tipis dan cenderung lurus? Nah, ketika mendadani alis kamu biasanya mencoba membuat alis seimbang. Padahal, memaksakan alis agar simetris bisa jadi malapetaka buat penampilanmu. Karena wajahmu jadi terlihat aneh dan tidak alami.

4. Kamu sering memoleskan bedak ke alis. Nggak heran warnanya jadi berubah

Ketika sedang mengaplikasikan make-up, kamu sering memoleskan bedak melalui alis. Hal itu tidak baik diterapkan karena akan meninggalkan bekas-bekas bedak. Warna alismu jadi tidak beraturan karena terkena sapuan bedak. Jika sudah terlanjur, kamu bisa menghapusnya dengan cara menggosok-gosokan alis pakai jari yang sedikit basah. Lalu, tunggu kering agar kamu bisa mendandani alis.

5. Jangan sering menyabuti rambut alis. Atau lebih baik minta ahlinya untuk merapikan

Saat tidak punya waktu merias alis, kamu suka menyabuti satu-persatu tanpa disadari. Hal ini karena kamu nggak betah dengan bentuk alis dan rambut yang sulit diatur. Tidak salah sih, tapi cara ini jika lambat laun rutin kamu lakukan maka akanmengubah wujud alis semula kamu. Cabuti pada bagian yang liar saja dan usahakan tidak perlu banyak. Untuk amannya sih, lebih baik serahkan kepada ahlinya saja biar rapi sempurna.

6. Kamu tidak boleh asal mengikuti selera dalam membentuk alis. Karena kamu harus sesuaikan dengan bentuk wajah

Untuk menyempurnakan penampilan, kamu perlu menyamakan alis dengan bentuk wajah. Jadi, kamu tidak boleh asal mengikuti selera alis yang kamu mau. Ikuti aturan ini yuk:

Wajah Oval – Bentuk alisnya bebas,

Wajah Panjang – Bentuk alis lurus yang cukup panjang karena dapat memberikan ilusi lebar,

Wajah Segiempat – Buat alis yang melengkung lembut atau tajam karena bisa menyeimbangkan bagian wajah yang menonjol,

Wajah Bulat – Panjang alis agak pendek untuk menghindari wajah makin melebar. Buat garis lengkungan yang cukup jelas agar panjang wajah lebih terlihat.

7. Jangan lupakan keberadaan sikat atau kuas alis. Karena membuat alismu lebih rapi dan hasil warna dari pensil lebih membaur sempurna

Ketika sudah berhasil mendandani alis dengan pensil, kamu sering merasa belum terlihat sempurna. Untuk itu, kamu tidak boleh melupakan keberadaan sikat atau kuas alis. Karena benda ini bisa merapikan tampilan alismu yang sudah dirias dengan pensil. Warna pensil yang menempel pada rambut-rambut alis pun dapat membaur dengan sempurna dan terlihat natural. Kamu juga harus pandai memilih kuas mana yang tepat kamu pilih. Kuas yang besar dan lebar dapat membuat penampilan alismu berantakan. Sedangkan, kuas yang ujungnya miring dan tipis mampu membentuk ujung dan pangkal alis dengan baik.

Kini, penampilanmu nggak bakal rusak lagi karena bentuk alis yang belum bagus. Dengan mengetahui 7 kebiasaan fatal tadi, kamu bisa menghindari dan menerapkan cara ngalis yang benar. Selamat mempraktikkan ya, girls!

Advertisements

Buat Pejuang Di Tanah Rantau, 6 Hal Ini Bisa Kamu Lakukan Saat Rindu Rumah Menyerang

hipwee-130-750x422

Siapa bilang jauh keluarga itu menyenangkan cuma karena bayang-bayang kehidupan yang lebih bebas? Sebaliknya jauh dari keluarga alias merantau itu justru lebih banyak menghadirkan sendu. Bagaimana tak sendu kalau di kota atau negeri orang ini kamu harus bisa bertahan hidup sendiri. Sebab teman tak selalu bisa diandalkan seperti keluarga. Tak jarang saat-saat sulit pun membuatmu semakin rindu akan rumah dengan kehadiran mereka. Kalau dipikir-pikir lagi ada benarnya juga kata orang, mau sebetah apapun kamu diperantauan tetap saja rasa-rasa rindu rumah tak bisa disangkal.

Tapi jangan ngaku perantau sejati kalau kamu tak bisa mengatasi kerinduaan ruma atau home sick ini.

1. Akhir pekan tak hanya bengong di kosan, tapi kamu menyibukkan diri dengan kegiatan apa saja yang menyenengkan

Bermalas-malasan di kamar rasanya memang menyenangkan. Apalagi di kos-kosan yang jelas-jelas tak ada suara ibu yang memintamu bantu membereskan rumah lah, antar ke pasar lah, mandi lah, atau sekadar bangun pagi. Tapi kenyataannya semakin sering kamu berdiam diri di kos, justru akan semakin sering rindu rumah. Karena biar bagaimana pun juga suasana kos berbeda jauh dengan di rumah yang mau sesepi apapun rasanya tetap saja hangat, nyaman dan aman.

Jadi solusinya, jadi anak rantau memang harusnya punya banyak kegiatan. Nggak cuma main dengan teman kantor atau kuliah, tapi bisa dengan ikut jadi volunter sampai kerja part-time mungkin. Kalaupun ingin di kos saja, setidaknya kamu punya stok film atau buku yang bagus, yang bisa mengalihkan perhatianmu.

2. Belajar memasak makanan rumahan buatan ibu, karena home sick bisa berawal dari hal sesederhana itu

Kalian pasti setuju kalau makanan rumah dan buatan ibu sendiri itu ngangenin sekali. Bukan karena gratis saja, tapi entah kenapa memang rasanya tak seperti masakan di luar sana. Membuatmu kadang berangan-angan, “Coba sekarang ada di rumah, pasti lagi makan pepes ikan mas yang aroma kemanginya bikin perut keroncongan.” Kadang saat kamu sedang ngemil jajan pasar, diam-diam ada rasa tak puas tapi mau beli lagi pun harus ingat uang buat keperluan lainnya.

Sementara kalau saja kamu mau menyibukkan diri belajar memasak makanan dari resep ibumu sendiri, mungkin rasanya agak sedikit berbeda, tapi bukan secara isi dan wujud sudah mewakili? Setidaknya kamu bisa puas makan pastel kesukanmu, karena membuatnya sendiri lebih hemat dibanding harus membelinya.

3. Main ketempat sodara yang ada di satu kota, setidaknya aroma-aroma rumah bisa dirasakan di sana

Masih ingat ‘kan pesan ayah atau ibumu yang memintamu untuk menyambung tali silahturahmi ke om, tante, pakde atau bude dari kedua orangtuamu. Semata-mata bukan untuk berbasa-basi biasa. Tapi orangtuamu tahu, kalau keberadaan kerabatnya ini akan menjadi pengganti sementara ayah, ibu, kakak dan adik-adikmu.

Setidaknya dengan main ke rumah mereka kamu bisa merasakan kehangatan suasana rumah. Bisa merasakan makanan rumahan yang rasanya tak berbeda jauh, karena sebagai keluarga besar kalian punya selera yang sama. Dan paling penting ada tempat di mana kamu bisa melihat bayang-bayang ibumu dari adiknya, atau ayahmu dari kakak kandungnya ini.

4. Kumpul bareng temam seperantauan dari daerah yang sama, biar kangen-kangenannya bisa sama-sama

Selain saudara ada juga teman-teman sesama perantauan yang berasal dari satu daerah denganmu, yang bisa jadi tempat mencurahkan rindu. Sebab kalian punya bahasa sehari-hari yang sama, selera makanan dan gaya bercandaan yang sama, sampai rasa-rasa senasib sebagai perantau yang juga sama pastinya. Kamu ingin pulang ke kota asal, mereka pun demikian.

5. Telepon jadi obat rindu sementara, ya mirip kayak orang pacaran yang LDR-an

Sebenarnya semakin canggih komunikasi, semakin muda pula rindumu terhadap ayah, ibu, kakak dan adik terobati sementara waktu. Tinggal kamu pilih, terus berkabar dengan mereka setiap saat lewat chat, atau sesekali di hari libur kamu menelepon mereka yang sedang berkumpul. Bisa cukup mendengar suara mereka saja, atau sembari menatap wajah keluargamu satu persatu lewat video call. Semua itu bisa meringankan rindumu, Nak!

6. Karena pada akhirnya pulang jadi jawaban dari rindu rumah dan keluarga

Tapi obat rindu tetap saja bertemu langsung, dalam artian ya pulang ke rumah. Toh sejauh apapun kamu melangkah, pulang adalah tujuan akhir dari kamu dan semua perantau lainnya. Ada haru tersendiri saat kamu merasakan hawa kota, rumah, dan keluargamu setelah beberapa waktu jauh dari mereka. Dan rasanya semalam suntuk pun kurang untuk terus berbagi cerita dengan mereka.

Rindu diibaratkan petunjuk yang tak pernah salah mengantarkanmu untuk pulang.

Berhenti (Sementara) dari Aktivitas Sosial Media Itu Banyak Manfaatnya. Yakin Nggak Pengen Dapat Salah Satunya?

hipwee-pexels-photo-199497-750x422

Selama beberapa tahun terakhir ini, saya adalah salah satu pengguna media sosial yang aktif. Sebagai seorang introvert, saya merasa bahwa media sosial adalah sebuah hal yang sangat menyenangkan dan sangat membantu saya dalam pergaulan.

Bila kamu seorang introvert, kamu mungkin tahu bahwa terkadang kita lebih memilih untuk sendiri.

Kita lebih suka menghabiskan waktu untuk melaksanakan hal yang kita sukai dengan melakukan berbagai aktivitas secara sendiri. Keberadaan sosial media menjadi sebuah hal yang luar biasa dan menyenangkan karena teknologi ini memungkinkan kita untuk menjadi sosial walaupun kita tidak berada bersama orang lain. Kita bisa tetap berkomunikasi dan terhubung dengan orang lain, walaupun kita sendiri tidak harus selalu bersama orang lain.

Mungkin kamu juga merasakan hal yang sama dengan saya. Sosial media membuat saya lebih terbuka dengan dunia ini. Saya melihat dan berteman dengan banyak orang yang tidak berasal dari Indonesia dan dari pertemanan itu, saya mulai mempelajari banyak kebudayaan mereka. Saya belajar bahwa pandangan yang selama ini saya anut sebagai kepercayaan saya ternyata bukan satu-satunya pandangan yang benar akan dunia ini. Ternyata saya tidak sesignifikan yang saya pikir.

Saya belajar untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan senantiasa terbuka dengan dunia sekitar saya. Saya mau memperjelas, hanya karena saya mengatakan saya terbuka terhadap hal-hal baru, bukan berarti saya setuju. Hanya karena saya mengatakan bahwa saya terbuka dengan semua orang dan kebudayaan, bukan berarti saya senantiasa mengikuti hal-hal tersebut tanpa mengkritisi apakah hal tersebut baik bagi saya atau tidak. Mengerti tidak selalu berarti mengiyakan.

Mengerti hanya menunjukkan bahwa saya bersedia untuk menerima bahwa ada pandangan lain yang dianut orang lain selain pandangan saya and it’s fine.

Tetapi, ini bukanlah topik yang saya ingin bicarakan. Ya, topik yang saya tulis kali ini berkaitan dengan sisi negatif media sosial. Para peneliti banyak menemukan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menyebabkan atau meningkatkan gejala depresi dan kecemasan berlebihan.

Penggunaan media sosial secara berlebihan tidak serta merta memunculkan gangguan kejiwaan sebagai depresi yang harus didiagnosa terlebih dahulu oleh psikolog atau ahli kesehatan jiwa lainnya, tetapi memang dapat menimbulkan gejala depresi.

Saya termasuk salah seorang pribadi yang terkena efek negatif menggunakan sosmed secara berlebihan, terlebih saya sendiri sedang berada dalam kondisi yang kurang menyenangkan dan susasana hati saya pun sudah kurang baik sejak lama. Saya merasa semakin depresi dan merasa kurang berharga karena saya jadi membandingkan diri saya dengan orang lain.

Ya, saya senantiasa membandingkan kondisi saya dengan orang lain. Saya ingat bagaimana perasaan saya saat saya melihat orang lain bisa jalan-jalan ke tempat wisata ternama, saat mereka tertawa bersama teman-temannya atau pacarnya, saat mereka bisa hangout dengan keluarga mereka tanpa kendala, dan saat ada yang bisa bertemu dengan teman-teman satu gengnya setelah lama terpisah oleh jarak dan waktu.

Saya ingat persis betapa sedihnya saya dan betapa saya ingin menangis karena merasa bahwa semua orang memiliki hidup yang bahagia, sedangkan saya harus “menderita” seorang diri di negara orang lain. Saya merasa bahwa saya seharusnya sama seperti mereka atau bahkan lebih dari mereka.

Bukankah saya memiliki kesempatan dan bisa tinggal di tempat yang lebih maju? Bukankah saya seharusnya sebagai seorang penulis topik self-help harusnya sudah tahu mengenai bagaimana cara hidup bahagia? Bukankah saya seharusnya sudah percaya diri dan sudah dalam perjalanan hidup sukses? Kok saya sedih ketika melihat orang lain senang?

Kenapa saya harus sedih? Karena memang itulah efek media sosial, terlebih jika kamu sedang berada dalam suasana hati yang jelek dalam waktu yang lama. Sejujurnya, saya sendiri pun tahu dalam hati saya bahwa apa yang di post di media sosial bukanlah selalu refleksi kenyataan. Social media adalah media promosi. Jarang ada orang yang akan mem post sebuah hal yang buruk tentang dirinya.

Sebagai contoh: kamu sendiri jarang menemukan orang yang mem post saat dirinya berantem dengan pacarnya kan? Tidak akan ada orang yang mem post dirinya bahwa ia membenci dirinya sendiri (kecuali ia sudah mengalami gejala depresi dan ingin melampiaskan atau mungkin mencari pertolongan lewat media sosial). Tidak. Kalaupun ada, saya yakin jarang sekali ada yang berani mem post seperti itu.

Tidak semua hal yang kita lihat di media sosial dapat merepresentasikan kenyataan yang sebenarnya. Seorang yang sedih bisa saja mem post foto bahagia untuk mengkamuflasekan kesedihannya. Seseorang yang mungkin sebenarnya merasa insecure dengan dirinya dan dia menginginkan validasi dari pengguna media sosial bisa saja memposting foto dirinya dengan harapan saat orang memencet tombol “Like” atau “Love”, ia akan merasa lebih baik dengan dirinya sendiri. Banyak sekali kemungkinan atau pikiran yang dimiliki seseorang di balik post mereka.

Hal ini baru saya sadari kembali setelah saya memutuskan untuk berhenti secara sementara dalam menggunakan media sosial. Saya merasa bahwa kondisi kesehatan mental saya akan menjadi lebih buruk bila saya terus menggunakan media sosial secara berlebihan. Setelah saya mencoba untuk mengurangi penggunaan hal ini, saya merasa berbeda dari sebelumnya. Saya menyadari bahwa selama ini saya kurang menggunakan waktu secara efektif dalam keseharian saya. Saya banyak sekali menghabiskan waktu selama berjam-jam yang sebenarnya saya bisa gunakan untuk hal lain selain menggunakan media sosial.

Ya, sebenarnya kita selalu punya waktu untuk jadi lebih produktif. Saya bisa menghabiskan waktu tersebut atau menggunakan waktu tersebut lebih efektif untuk bertemu dengan teman, berolahraga, menulis daily journal, membaca novel yang saya sukai, belajar, meditasi, mendengarkan musik yang saya sukai, dan jalan santai di sore hari. Saya selama ini menggunakan handphone (HP) saya sebagai alasan untuk tidak mau bertemu dengan orang lain atau untuk menghindari pembicaraan dengan orang lain. Ketika saya mengurangi penggunaan HP saya, saya tahu bahwa saya tidak bisa menggunakan gadget ini sebagai alasan untuk tidak berbicara atau bersosialisasi dengan orang lain.

Saya belajar untuk benar-benar menghadapi isu yang selama ini saya hindari: saya merasa tidak bahagia dalam hidup saya. Memang rasanya tidak menyenangkan saat kita harus menghadapi hal-hal yang selama ini kita hindari. Tidak enak sama sekali. Tetapi, semakin lama kita tidak mau mengakui bahwa masalah kita ada, masalah tersebut tidak akan pernah selesai. Kita malah menciptakan banyak masalah baru. Saya akhirnya memaksakan diri untuk berani mengakui mengapa saya tidak bahagia. Saya akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa saya harus keluar dari zona nyaman saya dan harus berjuang menghadapi semua kecemasan saya. Saya merasa lebih baik sekarang karena saya sudah bisa menerima dan bisa mengubah beberapa aspek dalam hidup saya yang membuat saya tidak bahagia.

Hal terakhir dan terpenting yang bisa saya katakan adalah, saya belajar untuk menjadi cukup. Saya belajar untuk mensyukuri hidup saya. Saya jauh dari sempurna dari banyak hal. Tetapi saya sendiri sudah diberkati dan sudah memiliki amunisi untuk bisa hidup sukses. Saya menyadari bahwa kebahagiaan sejati bersumber dari Tuhan dan bukan dari manusia. Saya bukan pribadi paling religius dan saya tidak mau menjadi religius bila hal tersebut membuat saya merasa lebih baik dari orang lain padahal saya jauh dari hal tersebut. Saya masih banyak melakukan kesalahan dan saya masih harus banyak belajar. Saya bukan orang paling pintar atau cerdas, tetapi saya belajar bahwa lebih baik belajar menjadi orang bijaksana. Karena itu, langkah bijaksana yang ingin saya bagikan dalam tulisan ini adalah: kamu sudah cukup. You are good enough.

Bila kita selalu membandingkan diri dengan orang lain, kita tidak akan atau paling tidak, akan sangat sulit untuk menjadi pribadi yang bahagia. Percayalah, selalu ada orang yang berada di atas dan di bawah kita. Setiap orang memiliki kebahagiaan dan penderitaan masing-masing. Setiap orang memiliki timeline kehidupan masing-masing. Sebenarnya saat kita merasa iri atau inferior akan kehidupan orang lain, perasaan-perasaan ini masuk makal dan manusiawi. Tetapi, kita tidak perlu jatuh ke dalam perasaan iri.

Mari kita semua belajar untuk merasa cukup dalam segala hal. Manusia tidak akan pernah puas dan seringkali kita jatuh ke dalam dosa saat kita menjadi pribadi yang tidak bisa bersyukur. Kita menghalalkan segala cara demi meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Suatu saat, kita sudah tidak akan berada di dunia ini. Ya, suatu saat kita hanya akan menjadi sebuah nama. Kita tidak akan membawa kekayaan dan kesuksesan kita saat kita meninggal dan kematian masih menjadi misteri Ilahi.

Jalanilah hidup kita dengan rasa syukur. Hidup kita mungkin tidak selalu sempurna dan kita mungkin masih menjalani banyak sekali penderitaan. Tetapi, saya selalu ingat sebuah kutipan bahwa proses memang menyakitkan tetapi hasilnya akan membuat kita tersenyum. Teruslah berjuang untuk mencapai hidup yang kita inginkan tetapi jangan sampai kita lupa bahwa hidup juga perlu dinikmati dari detik ke detik, menit ke menit, dan hari ke hari.

Live in the moment and there you will find where the beauty lies. Because beauty is accessible and it is available anywhere, should you open yourself to gratitude.

Kepada Sahabat yang Lebih Dulu Wisuda, Selamat Ya. Setelah Ini, Cukup Do’akan Saya :)

hipwee-pexels-photo-351330-750x422

Masih begitu lekat di ingatanku, bagaimana dulu kita yang lugu saling berkenalan di kegiatan orientasi mahasiswa baru. Berlanjut dengan menghabiskan waktu istirahat kuliah di perpustakaan atau sekedar makan siang di kantin belakang kampus. Aku begitu merasa nyaman berbagi cerita dan segalanya denganmu, pun kamu sebaliknya.

Bersahabat dengan mu, seperti menemukan bagian lain dari diriku.

Bertahun-tahun ada dikelas yang sama, menempuh mata kuliah yang sama, aku mengenalmu sebagai sosok cerdas yang juga rajin. Setiap sesi diskusi atau debat kelompok, kamu begitu kritis dengan argumen-argumen lugas mu. Dibalik itu, kamu juga memiliki sisi konyol yang kadang seperti berbanding terbalik dengan kepintaran mu dalam melahap materi-materi perkuliahan.

Saat senang, kamu bisa tertawa lepas tanpa peduli tempat dan orang disekelilingmu. Lucunya, kamu pun gampang menangis hanya karena menonton film atau drama korea yang menurutku tidak sesedih versi mu. Perempuan pintar yang kocak, konyol dan hiper aktif, seperti paket lengkap saja.

Dipertengahan masa kuliah, kamu pernah mengajakku untuk berjanji akan terus bersama sampai waktu wisuda. Friendship goal dalam setiap cerita persahabatan masa kuliah. Aku pun memang menginginkan hal yang sama, tentu akan lengkap bahagiaku saat kita sama-sama terlihat cantik mengenakan toga yang kita impikan itu.

Saat aku tau kamu sudah mendaftarkan judul skripsi mu, sementara masih ada mata kuliah yang belum rampung ku tempuh, aku marah. Tapi bukan kah kamu berhak untuk mendapat hasil untuk ketekunan mu selama ini?.

Sampai suatu saat, seorang teman mengabariku kalau kamu sudah mendaftarkan judul skripsi dan sedang menunggu acc dosen pembimbing. Sungguh aku begitu terkejut. Kenapa pula aku harus tau semua dari orang lain dan bukan kamu yang menceritakan pada ku, bukankan kita sahabat? Apa begini cara mu untuk selangkah lebih maju dari sahabatmu ini. Semua pikiran buruk seperti mencerca ku saat itu, aku dikalahkan emosi yang merasa dikhianati sahabat sendiri.

Aku butuh waktu untuk meredakan ego ku. Berusaha berdamai dengan keadaan yang memang pantas terjadi. Kamu yang begitu tekun kuliah, dengan nilai IP tinggi di setiap semester. Sementara aku yang tidak sekeras itu berusaha, wajar saja jika hasil akhirnya pun tak sama. Lalu apa alasan pembenarku untuk marah atas kesuksesanmu itu? Aku sahabatmu, seharusnya aku turut berbangga dan bahagia karena kamu semakin dekat dengan cita-citamu. Aku lah orang pertama yang seharusnya menjabat tanganmu dan memberi ucapan selamat, bukan sebaliknya, menggerutu dibelakangmu.

Aku sudah ikhlas. Untuk janji yang dulu pernah kita buat. Aku tetap menepatinya, menemani mu hingga wisuda walaupun tidak memakai toga yang sama.

Terimakasih sudah menjadi bagian indah dari perjalanan masa mudaku. Dari mu, aku belajar bahwa usaha memang tidak pernah mengkhiati hasil. Semakin besar usaha kita, akan semakin besar pula hasil yang menanti. Maka sahabat hebatku, kesuksesanmu akan selalu jadi bagian dalam setiap doaku. Jangan lupa berkabarlah, meskipun kita tidak lagi berjuang di kota yang sama, persahabatan kita akan tetap ada selamanya.

Enaknya Pacaran Sama yang Lebih Tua; Menyenangkan dan No Drama!

hipwee-losangeleskinseymhireweddingphotographyphotographerengagement-22-1-750x422

Bukan mencari sebuah keuntungan ketika kita punya pacar yang lebih tua dari kita, atau bahkan dia yang mencari keuntungan dari kita. Tapi ini karna atas dasar rasa yang mengalir gitu aja.

Pengalamannya yang lebih banyak dari kita juga bisa bikin kita jadi tahu hal hal baru. Peran ganda sebagai yang lebih tua juga pastinya banyak dimainkannya, bukan hanya sebagai pacar tapi pembimbing sekaligus teman main juga.

1. Pengertian

Karna pengalamannya atau bahkan mobilitas dan jam terbang mereka yang lebih banyak dari kita jadi mereka lebih bisa mengerti kegiatan kita yang memang semisal nggka memungkin kan untuk terus terusan ngabarin dan laporan, kan sebelumnya mereka udah ngerasain sendiri dijamannya hehehe.

2. Teman debat yang nggak sok tau

Justru kalo diajak debat bukan cuma ngalah dan bilang “yaudah terserah kamu deh” tapi mereka lebih ngasih tau kebenaran ketimbang ngalah hanya karna males debat sama kita. Karna bagi mereka kita juga harus dibikin jadi tau dan ngerti.

3. Nggak gampang cemburu

Ini dia nih serunya, karna mereka lebih duluan hidup dari pada kita. Mereka pernah muda dan ngerasain jaman seru seruan kaya kita jadi ga gampang cemburu kalo kita jalan bareng temen cowok kita atau keluar cari makan berdua. Eh, tapi konteks dalam pertemanan loh ya, bukan niat serong kanan kiri hehehe.

4. Tempat sharing yang asik ketika dilanda masalah keremajaan

Karna mereka udah remaja duluan nih, rasanya emang jadi lebih nyaman sharingnya, selain dapet masukan asik tapi juga caution dari mereka yang bikin kita mindful.

5. Pacaran rasa kakak

The sweetness in our relationships is when he being like brother too. Nggak hanya yang serius serius aja tapi mereka juga bisa berperan as brother guys. sikap usil dan ngeselin mereka itu loh yang bikin gemess dan ngerasa kita kaya anak kecilnya merekaa.

6. Jadi bikin kita tetep merasa muda

Walaupun umur bukan takaran kedewasaan seseorang. Tapi mau gimana pun pikiran mereka tetap berjalan sesuai umur, tetap mengayomi kita yang imut ini hehe, meskipun kadang tingkah mereka bikin lucu dan bukan pada umurnya sih yaaa.

7. Nggak pernah ngerasa kalah sama mantan gebetan atau pacarnya y

Yaiyalah, secara kita lebih muda dan imut imut. walaupun kita tetep kalah jaman, kan ketika mantan mantan gebetan atau pacarnya doi sudah dewasa, kita masih tetep lucu hehehehe.

8. Jadi lebih berasa ‘dewasa’

Dewasa dalam hal yang baik baik maksudnya ya gaes hehehe. karna advice advice dan sudut pandang mereka yang secara ga langsung kita terpapar oleh itu yang bikin kita juga bisa jadi punya pemikiran yang sama.

Itu masih beberapa hal rasanya punya pacar yang lebih tua, masih banyak hal yang lebih amazing lagi. Itu lah kenapa serunya punya pacar lebih tua karna “A men never grow up” jadi sampai kapan pun kita yang masih gemes ini bisa nyocok aja sama yang lebih tua. Pokoknya kita tetep masih imut imut! Hehe, maksa.

Bukan berarti yang lebih muda itu buruk, ini hanya sebatas pengalaman mengenai asyiknya memiliki pasangan yang jauh lebih tua. Cheers!

Pasar Terapung

Objek Wisata di BanjarmasinPasar Terapung Muara [Sungai] Kuin atau Pasar Terapung Sungai Barito adalah pasar terapung tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pasar Terapung Muara Kuin merupakan pusaka saujana Kota Banjarmasin. Para pedagang dan pembeli menggunakan jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini mulai setelah salat Subuh sampai selepas pukul tujuh pagi. Matahari terbit memantulkan cahaya di antara transaksi sayur-mayur dan hasil kebun dari kampung-kampung sepanjang aliran sungai Barito dan anak-anak sungainya.

Para pedagang wanita yang berperahu menjual hasil produksinya sendiri atau tetangganya disebut dukuh, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Keistemewaan pasar ini adalah masih sering terjadi transaksi barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk.

Kini pasar terapung Kuin dipastikan menyusul punah berganti dengan pasar darat. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Kuin harus menelan kekecewaan karena tidak menjumpai adanya geliat eksotisme pasar di atas air.

Kepunahan pasar tradisional di daerah “seribu sungai” ini dipicu oleh kemaruk budaya darat serta ditunjang dengan pembangunan daerah yang selalu berorientasi kedaratan. Jalur-jalur sungai dan kanal musnah tergantikan dengan kemudahan jalan darat. Masyarakat yang dulu banyak memiliki jukung, sekarang telah bangga memiliki sepeda motor atau mobil.